REVIEW JURNAL
SISTEM PRODUKSI
Nomor Jurnal : Jurnal
OPSI Vol 11 No. 2 Desember 2018 ISSN 1693-2102
Judul Jurnal : Perancangan Sistem Kerja Untuk Meningkatkan
Hasil Produksi Melalui Pendekatan Macroergonomic Analysis And Design di
Sentra Industri Batik Ayu Arimbi Sleman.
Ditulis Oleh : Trisma Ristyowati dan Tri Wibawa.
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta.
ABSTRAK
Sentra Batik Ayu Arimbi yang ada di
daerah Plalangan, Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta adalah sebuah Sentra batik yang menggunakan pewarna alam sebagai pewarna
batik dan masih menggunakan cara-cara tradisional dalam sistem kerjanya.
Pekerja di sana sering mengalami kelelahan khususnya dalam membuat pola batik,
serta waktu yang dibutuhkan dalam membuat pola batik masih terlalu lama. Hal
ini disebabkan tidak adanya fasilitas alat bantu untuk pembuatan pola batik.
Untuk itu perlu dirancang meja batik tulis yang efesien, nyaman, aman dan mudah
dalam proses penggunaan dan perawatannya. Dalam penelitian ini
pengidentifikasian permasalahan dengan pendekatan Macroergonomic Analisys and Design (MEAD).
Langkah penelitian diawali dengan
menganalisis faktor kunci dalam makroergonomi, kemudian mencari solusi atas
variansi yang terjadi pada faktor kunci tersebut. Berdasarkan analisis tempat
kerja diperoleh bahwa bidang teknologi dan fasilitas kerja menjadi faktor
kunci, maka dirancanglah alat bantu meja pola batik. Kemudian perancangan meja
pola batik secara ergonomis dengan memperhatikan atribut meliputi meja pola
batik yang nyaman saat digunakan, meja mudah dioperasikan, pola dasar batik
terlihat jelas, pola batik yang memiliki kualitas lebih baik, pekerja tidak
cepat lelah, dan meja pola batik yang perawatannya mudah. Pengujian meja pola
batik dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan melibatkan pengguna
dan ketua sentra.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
meja pola batik yang dirancang dapat
menurunkan keluhan pembuat pola batik dan pekerjaan dilakukan secara ergonomis.
Secara kualitatif hasil produksi design batik lebih tajam dan indah, kuesioner
menunjukan bahwa meja pola batik mudah dioperasikan, nyaman pada saat
digunakan, dan mudah dalam melakukan perawatan. Secara Kuantitatif dapat
meningkatkan jumlah roduksi, dikarenakan waktu proses menggambar pola yang
semula 18 jam menjadi 6 jam, waktu yang dapat dihemat adalah 2 hari kerja.
PENDAHULUAN
Sentra industri batik Ayu Arimbi
berada di Padukuhan Plalangan Gajah Kuning, Desa Pandowoharjo, Kecamatan
Sleman, Kabupaten Sleman. Sentra ini ketua oleh Ibu Tatik Susilowati, dengan
anggota sebanyak 18 pengrajin. Secara umum, para pengrajin terdiri dari ibu-ibu
rumah tangga. Produk yang dihasilkan berupa batik cap dan batik tulis. Ciri
khas yang dikembangkan dan menjadi daya saing industri batik ini adalah bahwa
batik yang diproduksi dengan motif khas sinom parijoto dengan kombinasi salak.
Selain itu penggunaan kombinasi warna sintetis dan pewarna alami yang ramah
lingkungan. Bahan baku dan bahan pendukung yang digunakan antara lain adalah
kain, lilin/malam, pewarna alami, pewarna sintetis, kuas, canting, HCl, dan
Asam Nitrit. Bahan baku kain dari PT Primissima, Medari, Sleman, sedangkan
bahan lainnya dari Pemasok Bantul dan Klaten.
Hasil survei di industri Batik Ayu
Arimbi menunjukan proses produksi yang dilakukan masih dibilang sederhana. Diawali
dari penyiapan bahan kain, membuat pola, dan membatik dengan tangan dan cap.
Selanjutnya penjemuran, pencelupan, dan pengeringan. Peralatan yang digunakan untuk
mendukung proses produksi diantaranya adalah kompor, canting, cap tangan, dan
kuas. Kelemahan yang dihadapi ditinjau dari lingkungan kerjanya masih banyak
yang harus diperbaiki. Berdasarkan aspek pemodalan dan finansial, sumber modal
usaha berasal dari modal pribadi, pinjaman, dan bantuan pemerintah. Penghasilan
yang diterima pengrajin tergantung dari besarnya produk yang terjual. Sistem
administrasi yang diterapkan oleh sentra ini masih bersifat tradisional dengan
cara manual dituliskan dalam buku khas.
LANDASAN TEORI
Sistem kerja merupakan rangkaian tata
kerja dan prosedur kerja yang kemudian membentuk suatu kebulatan pola tertentu
dalam rangka melaksanakan suatu bidang pekerjaan (KBBI, 2005). Menurut Kleiner
(2006), sistem kerja terdiri dari dua atau lebih orang yang bekerja
bersama-sama (personel sub-sistem), berinteraksi dengan teknologi
(technological sub-system) dalam sistem organisasi yang dicirikan oleh
lingkungan internal (both physical and cultural). Menurut Freivald (2010), elemen-elemen sistem kerja terdiri dari
organisasi, human, tasks, environment, dan tools/teknologi.
Berdasarkan latar belakang yang
diuraikan di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang
sistem kerja yang aman, nyaman, efektif, dan efisien sesuai kaidah ergonomi
sehingga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi di Sentra
Batik Ayu Arimbi dengan pendekatan macroergonomic analysis and design. Tujuan
yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)
Merancang sistem kerja di Sentra Batik Ayu Arimbi dengan pendekatan
macroergonomic analysis and design.
2)
Mengetahui kenyamanan kerja karyawan sebelum dan sesudah perancangan.
3)
Mengetahui output produk yang dibuat untuk mengukur produktivitas hasil
perancangan.
Manfaat
yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)
Industri kecil dan menengah dapat mengenal dan menerapkan teknologi untuk
meningkatkan produktivitasnya.
2)
Sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem kerja
dengan sehat, aman, nyaman, efektif dan efisien.
3)
Salah satu penerapan difusi teknologi dari akademisi ke dalam masyarakat.
METODELOGI
PENELITIAN
Obyek yang menjadi fokus penelitian
ini adalah mengevaluasi sistem kerja yang meliputi faktor organisasi,
peralatan, pekerjaan dan lingkungan fisik. Pada keempat faktor tersebut akan
dicari faktor kunci yang mempengaruhi kenyamanan pekerja dan produktivtas
sehingga dapat dibuat usulan perbaikan sistem kerja. Pada sentra batik ini
proses pembuatan pola dilakukan secara manual dengan cara yang tidak ergonomis
yaitu dengan duduk dilantai selama 1 jam membuat pola selanjutnya beristirahat
sebentar lalu melanjutkan lagi membuat pola 1 jam dan seterusnya, sehingga satu
kain batik tulis membutuhkan waktu selama 18 jam dalam satu pola kain batik
tulis. Posisi kerja seperti ini tentunya berisiko menimbulkan keluhan keluhan
pada sistem musculoskeletal. Sedangkan keluhan dari pekerja yang mengalami rasa
sakit ketika selesai beraktivitas seharian di industri tersebut, rata-rata
pekerja memiliki keluhan yang sama yaitu kaki kesemutan, pegal-pegal pada
leher, tangan dan tulang belakang karena terlalu lama duduk bersila di lantai.
Identifikasi postur kerja yang tidak aman bagi tubuh yang dapat menimbulkan
gejala Musculosketal Disorders
(MSDs). Dalam mengatasi kondisi sistem kerja yang belum optimal digunakan Macroergonomic Analysis and Design
(MEAD) untuk mengevaluasi sistem kerja pada Industri Batik Ayu Arimbi sehingga
dapat diketahui faktor kunci dalam sistem kerja yang paling berpengaruh
terhadap produktivitas dan dapat dibuat usulan perbaikan berdasarkan faktor
kunci yang terpilih sehingga dapat memperbaiki sistem kerja menjadi lebih baik.
Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) merupakan metodologi yang
menggambarkan tahapan implementasi ergonomi makro yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi dan merancang sistem kerja. Kerangka umum Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) dikembangkan oleh Emery
and Trist (1978) dalam Hendrick and Kleiner (2001). Berikut ini adalah penjabaran
dari langkah pengolahan data yang dilakukan:
1.
Mengamati sistem
organisasi secara internal dan eksternal
2.
Mendefinisikan
tipe sistem operasi kerja dan ekspektasi kerja
3.
Mendefinisikan
unit operasi dan proses kerja
4.
Mengidentifikasi
variansi yang terjadi
5.
Membuat matriks
variansi
6.
Membuat tabel
kendali variansi kunci dan jaringan peran
7.
Menunjukan
alokasi fungsi dan rancangan bersama
8.
Memahami
persepsi mengenai peran dan tanggung jawab
9.
Merancang atau
memperbaiki subsistem pendukung interface
HASIL DAN PEMBAHASAN
Macroergonomic Analysis and Design
(MEAD) yang terdiri dari 10 fase. Langkah atau tahapan proses Macroergonomic
Analysis and Design (MEAD) tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi dan
merancang sistem kerja.
1.
Identifikasi
lingkungan dan subsistem organisasi
Analisis visi, misi,
dan asas dasar organisasi. Misi menjelaskan tentang tujuan organisasi dan
aktivitas produksi/pelayanan. Visi merupakan pandangan ke depan yang akan
dicapai organisasi pada jangka 5-10
tahun.
2.
Mendefinisikan
jenis sistem produksi dan ekspektasi performansi
Kriteria ekspektasi
performansi berhubungan dengan tujuan organisasi dan teknikal proses yang ada.
Tipe produksi didasarkan pada make to order (pembuatan berdasarkan pesanan).
Ada beberapa batik tulis khas juga dibuat untuk keperluan khusus seperti
promosi dan pameran.
3.
Mengidentifikasi
data varian
Identifikasi data
varian bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang ada sehingga dapat
memudahkan proses analisis selanjutnya.
4.
Membuat matriksa
varian
Matriks varian
bertujuan untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan antar varian atau apakah
varian yang satu mempengaruhi varian lainnya.
5.
Membuat tabel
kendali varian kunci dan jaringan peran
Tahap ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana kendali atau kontrol varian yang telah ada dan
bagaimana peran personel yang bertanggung jawab di perusahaan.
6.
Penyusunan fuction alocation and joint design
Tahap ini bertujuan
untuk membuat fungsi alokasi dan rancangan alternatif perbaikan dari tabel
kendali varian dan varian kunci yang ada dalam bentuk objective/activity tree. Berikut ini adalah Gambar 1 Meja pola
batik tulis 3D
Gambar 1
Meja Pola Batik Tulis 3D
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil analisis hasil dan pembahasan penerapan MEAD di Sentra Batik Ayu Arimbi,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.
Faktor kunci
yang mempengaruhi sistem kerja untuk meningkatkan produktivitas adalah faktor
teknologi yang terdiri dari varian keseusaian alat kerja dan masalah desain
peralatan kerja
b.
Perbaikan sistem
kerja dilakukan dengan pengadaan peralatan kerja berupa meja pola batik,
sosialisasi penggunaan meja batik yang baik dan benar yang dapat dilakukan pada
saat breifing sebelum mulai kerja.
c.
Waktu proses
pembuatan pola batik dengan meja kerja semakin cepat 6 jam dibanding dengan
sistem kerja lama yang prosesnya sampai 18 jam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar