Minggu, 19 Januari 2020

REVIEW JURNAL SISTEM PRODUKSI


REVIEW JURNAL
SISTEM PRODUKSI

Nomor Jurnal     : Jurnal OPSI Vol 11 No. 2 Desember 2018 ISSN 1693-2102
Judul Jurnal        : Perancangan Sistem Kerja Untuk Meningkatkan Hasil Produksi   Melalui Pendekatan Macroergonomic Analysis And Design di Sentra Industri Batik Ayu Arimbi Sleman.
Ditulis Oleh        : Trisma Ristyowati dan Tri Wibawa. Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta.

ABSTRAK
          Sentra Batik Ayu Arimbi yang ada di daerah Plalangan, Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta adalah sebuah  Sentra batik yang  menggunakan pewarna alam sebagai pewarna batik dan masih menggunakan cara-cara tradisional dalam sistem kerjanya. Pekerja di sana sering mengalami kelelahan khususnya dalam membuat pola batik, serta waktu yang dibutuhkan dalam membuat pola batik masih terlalu lama. Hal ini disebabkan tidak adanya fasilitas alat bantu untuk pembuatan pola batik. Untuk itu perlu dirancang meja batik tulis yang efesien, nyaman, aman dan mudah dalam proses penggunaan dan perawatannya. Dalam penelitian ini pengidentifikasian permasalahan dengan pendekatan Macroergonomic Analisys and Design (MEAD).
          Langkah penelitian diawali dengan menganalisis faktor kunci dalam makroergonomi, kemudian mencari solusi atas variansi yang terjadi pada faktor kunci tersebut. Berdasarkan analisis tempat kerja diperoleh bahwa bidang teknologi dan fasilitas kerja menjadi faktor kunci, maka dirancanglah alat bantu meja pola batik. Kemudian perancangan meja pola batik secara ergonomis dengan memperhatikan atribut meliputi meja pola batik yang nyaman saat digunakan, meja mudah dioperasikan, pola dasar batik terlihat jelas, pola batik yang memiliki kualitas lebih baik, pekerja tidak cepat lelah, dan meja pola batik yang perawatannya mudah. Pengujian meja pola batik dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif dengan melibatkan pengguna dan ketua sentra.
          Hasil penelitian menunjukkan bahwa meja pola batik  yang dirancang dapat menurunkan keluhan pembuat pola batik dan pekerjaan dilakukan secara ergonomis. Secara kualitatif hasil produksi design batik lebih tajam dan indah, kuesioner menunjukan bahwa meja pola batik mudah dioperasikan, nyaman pada saat digunakan, dan mudah dalam melakukan perawatan. Secara Kuantitatif dapat meningkatkan jumlah roduksi, dikarenakan waktu proses menggambar pola yang semula 18 jam menjadi 6 jam, waktu yang dapat dihemat adalah 2 hari kerja.

PENDAHULUAN
          Sentra industri batik Ayu Arimbi berada di Padukuhan Plalangan Gajah Kuning, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman. Sentra ini ketua oleh Ibu Tatik Susilowati, dengan anggota sebanyak 18 pengrajin. Secara umum, para pengrajin terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Produk yang dihasilkan berupa batik cap dan batik tulis. Ciri khas yang dikembangkan dan menjadi daya saing industri batik ini adalah bahwa batik yang diproduksi dengan motif khas sinom parijoto dengan kombinasi salak. Selain itu penggunaan kombinasi warna sintetis dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Bahan baku dan bahan pendukung yang digunakan antara lain adalah kain, lilin/malam, pewarna alami, pewarna sintetis, kuas, canting, HCl, dan Asam Nitrit. Bahan baku kain dari PT Primissima, Medari, Sleman, sedangkan bahan lainnya dari Pemasok Bantul dan Klaten.
            Hasil survei di industri Batik Ayu Arimbi menunjukan proses produksi yang dilakukan masih dibilang sederhana. Diawali dari penyiapan bahan kain, membuat pola, dan membatik dengan tangan dan cap. Selanjutnya penjemuran, pencelupan, dan pengeringan. Peralatan yang digunakan untuk mendukung proses produksi diantaranya adalah kompor, canting, cap tangan, dan kuas. Kelemahan yang dihadapi ditinjau dari lingkungan kerjanya masih banyak yang harus diperbaiki. Berdasarkan aspek pemodalan dan finansial, sumber modal usaha berasal dari modal pribadi, pinjaman, dan bantuan pemerintah. Penghasilan yang diterima pengrajin tergantung dari besarnya produk yang terjual. Sistem administrasi yang diterapkan oleh sentra ini masih bersifat tradisional dengan cara manual dituliskan dalam buku khas.

LANDASAN TEORI
          Sistem kerja merupakan rangkaian tata kerja dan prosedur kerja yang kemudian membentuk suatu kebulatan pola tertentu dalam rangka melaksanakan suatu bidang pekerjaan (KBBI, 2005). Menurut Kleiner (2006), sistem kerja terdiri dari dua atau lebih orang yang bekerja bersama-sama (personel sub-sistem), berinteraksi dengan teknologi (technological sub-system) dalam sistem organisasi yang dicirikan oleh lingkungan internal (both physical and cultural). Menurut Freivald (2010),  elemen-elemen sistem kerja terdiri dari organisasi, human, tasks, environment, dan tools/teknologi.
          Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang sistem kerja yang aman, nyaman, efektif, dan efisien sesuai kaidah ergonomi sehingga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi di Sentra Batik Ayu Arimbi dengan pendekatan macroergonomic analysis and design. Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Merancang sistem kerja di Sentra Batik Ayu Arimbi dengan pendekatan macroergonomic analysis and design.
2) Mengetahui kenyamanan kerja karyawan sebelum dan sesudah perancangan.
3) Mengetahui output produk yang dibuat untuk mengukur produktivitas hasil perancangan.
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Industri kecil dan menengah dapat mengenal dan menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitasnya. 
2) Sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perbaikan terhadap sistem kerja dengan sehat, aman, nyaman, efektif dan efisien.
3) Salah satu penerapan difusi teknologi dari akademisi ke dalam masyarakat.
METODELOGI PENELITIAN
          Obyek yang menjadi fokus penelitian ini adalah mengevaluasi sistem kerja yang meliputi faktor organisasi, peralatan, pekerjaan dan lingkungan fisik. Pada keempat faktor tersebut akan dicari faktor kunci yang mempengaruhi kenyamanan pekerja dan produktivtas sehingga dapat dibuat usulan perbaikan sistem kerja. Pada sentra batik ini proses pembuatan pola dilakukan secara manual dengan cara yang tidak ergonomis yaitu dengan duduk dilantai selama 1 jam membuat pola selanjutnya beristirahat sebentar lalu melanjutkan lagi membuat pola 1 jam dan seterusnya, sehingga satu kain batik tulis membutuhkan waktu selama 18 jam dalam satu pola kain batik tulis. Posisi kerja seperti ini tentunya berisiko menimbulkan keluhan keluhan pada sistem musculoskeletal. Sedangkan keluhan dari pekerja yang mengalami rasa sakit ketika selesai beraktivitas seharian di industri tersebut, rata-rata pekerja memiliki keluhan yang sama yaitu kaki kesemutan, pegal-pegal pada leher, tangan dan tulang belakang karena terlalu lama duduk bersila di lantai. Identifikasi postur kerja yang tidak aman bagi tubuh yang dapat menimbulkan gejala Musculosketal Disorders (MSDs). Dalam mengatasi kondisi sistem kerja yang belum optimal digunakan Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) untuk mengevaluasi sistem kerja pada Industri Batik Ayu Arimbi sehingga dapat diketahui faktor kunci dalam sistem kerja yang paling berpengaruh terhadap produktivitas dan dapat dibuat usulan perbaikan berdasarkan faktor kunci yang terpilih sehingga dapat memperbaiki sistem kerja menjadi lebih baik. Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) merupakan metodologi yang menggambarkan tahapan implementasi ergonomi makro yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan merancang sistem kerja. Kerangka umum Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) dikembangkan oleh Emery and Trist (1978) dalam Hendrick and Kleiner (2001). Berikut ini adalah penjabaran dari langkah pengolahan data yang dilakukan:   
1.      Mengamati sistem organisasi secara internal dan eksternal
2.      Mendefinisikan tipe sistem operasi kerja dan ekspektasi kerja
3.      Mendefinisikan unit operasi dan proses kerja
4.      Mengidentifikasi variansi yang terjadi
5.      Membuat matriks variansi
6.      Membuat tabel kendali variansi kunci dan jaringan peran
7.      Menunjukan alokasi fungsi dan rancangan bersama
8.      Memahami persepsi mengenai peran dan tanggung jawab
9.      Merancang atau memperbaiki subsistem pendukung interface

HASIL DAN PEMBAHASAN
          Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) yang terdiri dari 10 fase. Langkah atau tahapan proses Macroergonomic Analysis and Design (MEAD) tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi dan merancang sistem kerja.
1.        Identifikasi lingkungan dan subsistem organisasi
Analisis visi, misi, dan asas dasar organisasi. Misi menjelaskan tentang tujuan organisasi dan aktivitas produksi/pelayanan. Visi merupakan pandangan ke depan yang akan dicapai organisasi  pada jangka 5-10 tahun.
2.        Mendefinisikan jenis sistem produksi dan ekspektasi performansi
Kriteria ekspektasi performansi berhubungan dengan tujuan organisasi dan teknikal proses yang ada. Tipe produksi didasarkan pada make to order (pembuatan berdasarkan pesanan). Ada beberapa batik tulis khas juga dibuat untuk keperluan khusus seperti promosi dan pameran.
3.        Mengidentifikasi data varian
Identifikasi data varian bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang ada sehingga dapat memudahkan proses analisis selanjutnya.
4.        Membuat matriksa varian
Matriks varian bertujuan untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan antar varian atau apakah varian yang satu mempengaruhi varian lainnya.
5.        Membuat tabel kendali varian kunci dan jaringan peran
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kendali atau kontrol varian yang telah ada dan bagaimana peran personel yang bertanggung jawab di perusahaan.
6.        Penyusunan fuction alocation and joint design
Tahap ini bertujuan untuk membuat fungsi alokasi dan rancangan alternatif perbaikan dari tabel kendali varian dan varian kunci yang ada dalam bentuk objective/activity tree. Berikut ini adalah Gambar 1 Meja pola batik tulis 3D
Gambar 1 Meja Pola Batik Tulis 3D

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis hasil dan pembahasan penerapan MEAD di Sentra Batik Ayu Arimbi, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.         Faktor kunci yang mempengaruhi sistem kerja untuk meningkatkan produktivitas adalah faktor teknologi yang terdiri dari varian keseusaian alat kerja dan masalah desain peralatan kerja
b.        Perbaikan sistem kerja dilakukan dengan pengadaan peralatan kerja berupa meja pola batik, sosialisasi penggunaan meja batik yang baik dan benar yang dapat dilakukan pada saat breifing sebelum mulai kerja.
c.         Waktu proses pembuatan pola batik dengan meja kerja semakin cepat 6 jam dibanding dengan sistem kerja lama yang prosesnya sampai 18 jam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar