“ANALISIS KELAYAKAN USAHA CLOTHING LINE”
Berikut merupakan langkah – langkah
dalam melakukan analisis kelayakan usaha pada sebuah usaha Clothing line.
1.
Biaya Investasi Awal
|
No.
|
Uraian
|
Biaya
|
|
1
|
Biaya Pembelian Tanah
|
Rp 86.425.000
|
|
2
|
Biaya Konstruksi
|
Rp 130.130.000
|
|
3
|
Biaya Fasilitas Usaha Clothing Line
|
Rp 114.121.000
|
|
5
|
Biaya Pra-Investasi
|
Rp 30.000.000
|
|
6
|
Biaya Modal Kerja
|
Rp 25.000.000
|
|
Total Investasi
|
Rp 385.676.000
|
|
|
Investasi Tanpa Tanah
|
Rp 300.241.000
|
|
Berdasarkan dari tabel diatas terdapat kolom uraian
dan biaya. Kolom uraian berisikan tentang biaya apa saja yang termasuk ke dalam
investasi awal yaitu contoh terdapat biaya pembelian tanah dengan biaya sebesar
Rp. 86.425.000. Pada akhir tabel terdapat total investasi yang didapat dari
penjumlahan semua biaya yang ada sehingga didapatkan hasilnya sebesar Rp 385.676.000.
Investasi tanpa tanah didapat dari biaya total investasi dikurangi dengan biaya
pembelian tanah sehingga didapat hasilnya sbesar Rp 300.241.000.
2.
Laba Rugi
Berdasarkan tabel laba rugi terdapat kolom uraian,
tahun ke-1 sampai tahun ke-5. Uraian ini berisikan tentang total pendapatan,
biaya langsung, laba kotor, biaya tak langsung, depresiasi, laba sebelum pajak,
pajak pendapatan, dan laba bersih. Laba kotor diperoleh dari hasil pengurangan
antara total pendapatan dan biaya tak langsung sehingga diperoleh laba kotor
pada tahun ke-1 sebesar Rp 27.800.000. Laba sebelum pajak diperoleh dari hasil
pengurangan antara laba kotor dikurangi dengan total biaya tidak langsung dan
depresiasi sehingga pada tahun ke-1 didapat laba sebelum pajak yaitu Rp
-9.577.450. Laba bersih didapat dari hasil laba sebelum pajak dikurangi dengan
pajak pendapatan yang hasilnya yaitu Rp -10.105.450.
3.
Arus Kas
Berdasarkan dari tabel arus kas diatas terdapat kolom
uraian dan tahun ke-0 sampai tahun ke-5. Dari tabel tersebut dapat diketahui
terdapat total dari cash in, cash out,
net cash flow, saldo kas awal dan saldo kas akhir dari biaya tersebut.
Total cash in didapat dari hasil dari
pendapatan pada masing – masing tahun, dan total cash in pada tahun ke-1 sebesar Rp. 52.800.000. selanjutnya total cash out didapat dari penjumlahan semua
biaya yang dikeluarkan seperti investasi tanpa tanah, biaya langsung, biaya tak
langsung, dan pajak pendapatan sehingga total cash out pada tahun ke-1 sebesar Rp 44.028.000. net cash flow diperoleh dari hasil
pengurangan dari total cash in dan
total cash out sehingga diperoleh
hasilnya pada tahun ke-1 sebesar Rp 8.772.000. saldo kas awal pada tahun ke-1
merupakan saldo pada tahun ke-0. Dan saldo kas akhir merupakan hasil dari
penjumlahan antara net cash flow dan
saldo kas awal.
4.
Payback Period
Berdasarkan dari tabel payback
period diatas terdapat uraian net
cash flow, akumulasi net cash flow, dan
payback period. net cash flow didapat
dari tabel net cash flow pada tabel
arus kas. Akumulasi net cash flow
diperoleh dari penjumlahan net cash flow
tiap tahun. Payback period diperoleh
dari perhitungan antara biaya net cash
flow tahun ke-3 dibagi dengan net
cash flow tahun ke-3 ditambah net
cash flow tahun ke-5 sehingga diperoleh hasil 2 tahun 2 bulan. Artinya
usaha tersebut akan balik modal pada tahun ke-2 dan bulan ke-2.
5.
Net Present
Value
Berdasarkan dari tabel net present value terdapat uraian
present value yang diperoleh dari hasil pembagian antara net cash flow dengan 1 + suku bunga
yaitu sebesr 6,13% dan diperoleh hasilnya pada tahun ke-1 sebesar Rp 8.265.334.
Nilai PVC merupakan present value cost yang
artinya merupakan biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-0. Sementara PVB
merupakan present value benefit yang
artinya yaitu keuntungan terbesar yang diperoleh dari tahun ke-0 sampai ke-5.
PVB merupakan hasil penjumlahan dari biaya tahun ke-2 sampai ke-5 karena
keuntungan terbesar yang diperoleh yaitu dari tahun ke-2 sampai ke-4. NPV
merupakan hasil pengurangan dari PVB dan PVC.
6.
Internal Rate of Return
Internal Rate of Return merupakan uji kelayakan apakah
investasi ini layak atau tidak dilihan dari besarnya nilai IRR tersebut.
Apabila nilai IRR lebih besar dari MARR, maka investasi tersebut layak tetapi
jika MARR tersebut lebih besar dari IRR maka investasi tersebut dapat dikatakan
tidak layak. Karena pada tabel IRR tersebut nilainya sebesar 24% dan lebih besar dari MARR maka investasi pada usaha ini
dikatakan layak.
7.
Break Even Point






Tidak ada komentar:
Posting Komentar