Minggu, 19 Januari 2020

CONTOH PERHITUNGAN LANGKAH-LANGKAH ANALISIS KELAYAKAN USAHA

“ANALISIS KELAYAKAN USAHA CLOTHING LINE”
Berikut merupakan langkah – langkah dalam melakukan analisis kelayakan usaha pada sebuah usaha Clothing line.
1.        Biaya Investasi Awal
No.
Uraian
 Biaya
1
Biaya Pembelian Tanah
 Rp       86.425.000
2
Biaya Konstruksi
 Rp      130.130.000
3
Biaya Fasilitas Usaha Clothing Line
 Rp      114.121.000
5
Biaya Pra-Investasi
 Rp       30.000.000
6
Biaya Modal Kerja
 Rp       25.000.000
Total Investasi
 Rp      385.676.000
Investasi Tanpa Tanah
 Rp      300.241.000

Berdasarkan dari tabel diatas terdapat kolom uraian dan biaya. Kolom uraian berisikan tentang biaya apa saja yang termasuk ke dalam investasi awal yaitu contoh terdapat biaya pembelian tanah dengan biaya sebesar Rp. 86.425.000. Pada akhir tabel terdapat total investasi yang didapat dari penjumlahan semua biaya yang ada sehingga didapatkan hasilnya sebesar Rp 385.676.000. Investasi tanpa tanah didapat dari biaya total investasi dikurangi dengan biaya pembelian tanah sehingga didapat hasilnya sbesar Rp 300.241.000.
2.        Laba Rugi
       

Berdasarkan tabel laba rugi terdapat kolom uraian, tahun ke-1 sampai tahun ke-5. Uraian ini berisikan tentang total pendapatan, biaya langsung, laba kotor, biaya tak langsung, depresiasi, laba sebelum pajak, pajak pendapatan, dan laba bersih. Laba kotor diperoleh dari hasil pengurangan antara total pendapatan dan biaya tak langsung sehingga diperoleh laba kotor pada tahun ke-1 sebesar Rp 27.800.000. Laba sebelum pajak diperoleh dari hasil pengurangan antara laba kotor dikurangi dengan total biaya tidak langsung dan depresiasi sehingga pada tahun ke-1 didapat laba sebelum pajak yaitu Rp -9.577.450. Laba bersih didapat dari hasil laba sebelum pajak dikurangi dengan pajak pendapatan yang hasilnya yaitu Rp -10.105.450.
3.        Arus Kas

Berdasarkan dari tabel arus kas diatas terdapat kolom uraian dan tahun ke-0 sampai tahun ke-5. Dari tabel tersebut dapat diketahui terdapat total dari cash in, cash out, net cash flow, saldo kas awal dan saldo kas akhir dari biaya tersebut. Total cash in didapat dari hasil dari pendapatan pada masing – masing tahun, dan total cash in pada tahun ke-1 sebesar Rp. 52.800.000. selanjutnya total cash out didapat dari penjumlahan semua biaya yang dikeluarkan seperti investasi tanpa tanah, biaya langsung, biaya tak langsung, dan pajak pendapatan sehingga total cash out pada tahun ke-1 sebesar Rp 44.028.000. net cash flow diperoleh dari hasil pengurangan dari total cash in dan total cash out sehingga diperoleh hasilnya pada tahun ke-1 sebesar Rp 8.772.000. saldo kas awal pada tahun ke-1 merupakan saldo pada tahun ke-0. Dan saldo kas akhir merupakan hasil dari penjumlahan antara net cash flow dan saldo kas awal.
4.        Payback Period

Berdasarkan dari tabel payback period diatas terdapat uraian net cash flow, akumulasi net cash flow, dan payback period. net cash flow didapat dari tabel net cash flow pada tabel arus kas. Akumulasi net cash flow diperoleh dari penjumlahan net cash flow tiap tahun. Payback period diperoleh dari perhitungan antara biaya net cash flow tahun ke-3 dibagi dengan net cash flow tahun ke-3 ditambah net cash flow tahun ke-5 sehingga diperoleh hasil 2 tahun 2 bulan. Artinya usaha tersebut akan balik modal pada tahun ke-2 dan bulan ke-2.
5.        Net Present Value
Berdasarkan dari tabel net present value terdapat uraian present value yang diperoleh dari hasil pembagian antara net cash flow dengan 1 + suku bunga yaitu sebesr 6,13% dan diperoleh hasilnya pada tahun ke-1 sebesar Rp 8.265.334. Nilai PVC merupakan present value cost yang artinya merupakan biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-0. Sementara PVB merupakan present value benefit yang artinya yaitu keuntungan terbesar yang diperoleh dari tahun ke-0 sampai ke-5. PVB merupakan hasil penjumlahan dari biaya tahun ke-2 sampai ke-5 karena keuntungan terbesar yang diperoleh yaitu dari tahun ke-2 sampai ke-4. NPV merupakan hasil pengurangan dari PVB dan PVC.
6.        Internal Rate of Return
Internal Rate of Return merupakan uji kelayakan apakah investasi ini layak atau tidak dilihan dari besarnya nilai IRR tersebut. Apabila nilai IRR lebih besar dari MARR, maka investasi tersebut layak tetapi jika MARR tersebut lebih besar dari IRR maka investasi tersebut dapat dikatakan tidak layak. Karena pada tabel IRR tersebut nilainya sebesar 24% dan lebih  besar dari MARR maka investasi pada usaha ini dikatakan layak.
7.        Break Even Point
       Break Even Point yaitu titik dimana usaha tersebut tidak mengalami kerugian dan tidak                       mengalami keuntungan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar